catatan 38: tantangan kewajiban agama/adat secara sosial

Bulan puasa 2024 akhirnya sampai. Dan gw setiap bulan puasa, rasanya pengen segera berakhir. Gw mengakui gw orang yang tidak religius. Tapi bukan itu masalahnya. Ketika bulan puasa, dan lebaran tiba, gw diwajibkan untuk bersosial dengan tetangga yang gibahin gw dari belakang, lalu berkunjung ke rumah nenek gw yang disitu gw akan di banding bandingkan dengan cucunya yang lain yang sudah sukses. Kebencian ini mengakibatkan kehilangan kepercayaan gw pada konsep agama. Mengapa seseorang harus mengikuti tata cara atau ibadah suatu agama, jika itu menyulitkan dirinya. Kenapa harus beriman, ketika iman itu perlahan menghancurkan diri sendiri, dalam konteks penyiksaan secara sosial. Mungkin gw hanya berada di lingkungan yang tidak cocok. Gw gak tau jalan lain dari masalag ini, kecuali dengan gw memutus semua relasi dengan orang di kampung gw, dan pergi ke suatu tempat, dengan kepribadian baru. Semoga lebaran kali ini gw masih survive& punya keinginan untuk hidup. Ironinya, gw tetap puasa, dengan dalih sekalian agar daya tahan/proporsi badan gw kembali. Dan temen onlen gw tiba² berhenti kontakan dengan gw. Gw mungkin berbuat salah, atau entahlah, tapi disini gw juga harus respect akan pilihan dia. Mungkin dia muak melihat gw yg kurang aksi untuk merubah situasi gw saat ini. Setiap kali gw berpikir untuk keluar dari situasi ini, entah kenapa berakhir dengan pemikiran suicidal. Gw tau, itu buruk. Itu negatif, tapi gw bingung selain dari opsi itu. Hanya saja, sudah gak betah sama sekali di kampung ini, pengen pergi ke tempat yang jauh, dengan orang baru, dan pekerjaan baru. Walau gw tau semua tidak akan berjalan selancar itu. 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "catatan 38: tantangan kewajiban agama/adat secara sosial"

Post a Comment

hubungi kami jika ada masalah dalam artikel

My photo
I believe there was nothing after death. And its doesn't matter if you die now or later, but the moment you born, you have to die. Everything doesn't matter, there is nothing.