Mungkin itu sifat sifat yang mereka anggap "normal" tapi kadang mereka gunakan untuk menjudge orang yg dibenci (ironinya gw juga melakukan hal yg sama).
Dan sampai pada satu pertanyaan, sebenarnya untuk apa manusia hidup? Apa tujuan hidup gw? Harus ngasih validasi ke orang lain, dan juga minta validasi? Gw kira itu hal yg menyedihkan. Mungkin itu jadi mood-boost, atau pschology support, tapi pada titik ini gw gak mau masuk dalam lingkungan itu, dalam lingkungan saling menguntungkan, dalam society. Dan gw sekarang sadar, gw gak mau jadi bagian dari society, dari lingkarang saling memanipulasi itu.
Gw berpikir untuk mencari cara untuk mengakhiri hidup gw dengan layak, bukan dari sudut pandang common sense/society dimana menurut mereka, seseorang mati dengan layak itu ya sudah berja&berkontribusi kedalam society, sudah melanjutkan keturunan(berkeluarga) dan menyatu/bermasyarakat. Itu menurut mereka.
Tapi,. Menurut gw sebagai outcast, tidak ada bedanya. Mau mati sekarang, atau mati tua. Gak ada apapun setelah kematian. Agama itu hanya alat untuk manusia tetap hidup dalam harapan palsu.
Dalam prinsip gw, kematian itu bukan akhir, tapi kembali jadi "tidak ada". Tidak perlu memikirkan dunia, memaksakan diri beradaptasi dengan society, memaksakan diri untuk survive, dengan seribu konsekuensi. Mati, ya selesai.
Rencana gw untuk mengakhiri hidup adalah, menyisahkan jejak jurnal dalam bentuk digital, supaya orang yang sama dengan gw, yang sama jadi outcast of society, yang tidak bisa bermasyarakat, beradaptasi, dan tidak berpegang pada harapan palsu, supaya melakukan hal yg sama dengan gw, yaitu mengakhiri penderitaan.
Jejak digital sudah gw penuhi, dalam 40 halaman blog ini.
Selanjutnya, gw akan mencari cara bagaimana caranya agar gw bisa bundir di shizuoka, jepang. Tepatnya di hutan gunung fuji, atau dikenal sebagai "sea of tree"/ aokigahara. Kenapa gw membuat suicide plan harus disana? Ini ada keterkaitannya dengan obsesi aneh gw terhadap hiburan jepang. Gw tau anime&manga itu karya fiktif, karya yang dibuat oleh orang orang yang berdelusi. Tapi entahlah, gw pengen tempat terakhir gw, tempat yg sama dengan mereka yang juga hilang harapan terhadap kemanusiaan&dunia, mereka yang gagal meraih mimpi, mereka yang dibuang, ditolak, atau tidak bisa beradaptasi dalam bermasyarakat&menjalin hubungan. Gw pengen tempat bundir gw dengan mereka yg sama sama menyedihkannya dengan gw.
--
Setelah mereview rencana gw, setidaknya gw butuh beberapa juta untuk membeli tiket pesawat pulang pergi, agar tidak dicurigai imigrasi, lalu pembuatan E-pasport untuk bebas visa (visa waiver). Sekarang gw menghadapi kesulitan dalam mencari sumber dana untuk rencana ini. Gw gak mau menyusahkan orang yang gw tinggalkan, seperti hutang pinjol. Untuk plan A. Gw terpaksa harus beradaptasi dan berpura pura menjadi bagian dari mereka, dan bekerja untuk mengumpulkan dana. Dan untuk plan B, yang semoga gak gw pilih, adalah dengan mengambil pinjol sebanyak mungkin, dari legal sampai ilegal, untuk memenuhi pembiayaan rencana gw.
Resiko plan B adalah menjadi beban untuk ahli waris/orang tua gw, dimana kalo gw mati ninggalin hutang, kemungkinan besar hutang gw "diwariskan" ke ahli waris/orang tua.
Maka dari itu, pertama gw akan berpegang pada plan A.
Gak ada hal yg bisa menghentikan gw. Gw gak punya hal yg menurut gw harus dilindungi, gw menyerah atas kehidupan gw yang menyedihkan, gw gak pernah pacaran real, gak ada hal baik yg pernah terjadi dalam kehidupan gw. Dan gw menjadi tidak percaya akan harapan, dalam bentuk apapun.

Belum ada tanggapan untuk "catatan 40: self-realization"
Post a Comment